Sabtu, 25 Juni 2011

Makalah Tawuran Pelajar

I. Pendahuluan
1.     1.  Latar Belakang Masalah
Tawuran yang sering dilakukan pada sekelompok remaja terutama oleh para pelajar seolah sudah tidak lagi menjadi pemberitaan dan pembicaraan yang asing lagi ditelinga kita. Inilah beberapa contoh yang bisa saya kemukakan sebagai bukti terjadinya tawuran yang dilakukan oleh para remaja beberapa tahun lalu. Di Palembang pada tanggal 23 September 2006 terjadi tawuran antar pelajar yang melibatkan setidaknya lebih dari tiga sekolah, di antaranya adalah SMK PGRI 2, SMK GAJAH MADA KERTAPATI dan SMKN 4 (harian pagi Sumatra ekspres Palembang).
Di Subang pada tanggal 26 Januari 2006 terjadi tawuran antara pelajar SMK YPK Purwakarta dan SMK Sukamandi (harian pikiran rakyat). Di Makasar pada tanggal 19 September 2006 terjadi tawuran antara pelajar SMA 5 dan SMA 3 (karebosi.com).
Tidak hanya pelajar tingkat sekolah menengah saja yang terlibat tawuran, di Makasar pada tanggal 12 Juli 2006 mahasiswa Universitas Negeri Makasar terlibat tawuran dengan sesama rekannya disebabkan pro dan kontra atas kenaikan biaya kuliah (tempointeraktif.com). Sedangkan di Semarang sendiri pada tanggal 27 November 2005 terjadi tawuran antara pelajar SMK 5, SMK 4 dan SMK Cinde (liputan6.com).
Kekerasan sudah dianggap sebagai pemecah masalah yang sangat efektif yang dilakukan oleh para remaja. Hal ini seolah menjadi bukti nyata bahwa seorang yang terpelajar pun leluasa melakukan hal-hal yang bersifat anarkis, premanis, dan rimbanis. Tentu saja perilaku buruk ini tidak hanya merugikan orang yang terlibat dalam perkelahian atau tawuran itu sendiri tetapi juga merugikan orang lain yang tidak terlibat secara langsung.
 Lalu mengapa tawuran antar pelajar ini bisa terjadi?  Faktor apa sajakah yang menyebabkan tawuran antar pelajar ini? Apa saja dampak yang ditimbulkan dari tawuran yang dilakukan? Dan bagaimanakah kita sebagai manusia-manusia perbaikan bangsa mencari jawaban atas semua permasalahan-permasalahan yang terjadi pada tawuran pelajar ini?



II. Landasan Teori
1.      Pengertian Tawuran
Dalam kamus bahasa Indonesia “tawuran”dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah seorang manusia yang belajar. Sehingga pengertian tawuran pelajar adalah perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang sedang belajar
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik.
1. Delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat.
2. Delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, tumbuh kebanggaan apabila dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya. Seperti yang kita ketahui bahwa pada masa remaja seorang remaja akan cenderung membuat sebuah genk yang mana dari pembentukan genk inilah para  remaja bebas melakukan apa saja tanpa adanya peraturan-peraturan yang harus dipatuhi karena ia berada dilingkup kelompok teman sebayanya.

III. Pembahasan
1.      Faktor- faktor yang menyebabkan tawuran pelajar
Berikut ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan tawuran pelajar, diantaranya :
a.       Faktor Internal
Faktor internal ini terjadi didalam diri individu itu sendiri yang berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaikan permasalahan disekitarnya dan semua pengaruh yang datang dari luar. Remaja yang melakukan perkelahian biasanya tidak mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks. Maksudnya, ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan keanekaragaman pandangan, ekonomi, budaya dan berbagai keberagaman lainnya yang semakin lama semakin bermacam-macam. Para remaja yang mengalami hal ini akan lebih tergesa-gesa dalam memecahkan segala masalahnya tanpa berpikir terlebih dahulu apakah akibat yang akan ditimbulkan. Selain itu, ketidakstabilan emosi para remaja juga memiliki andil dalam terjadinya perkelahian. Mereka biasanya mudah friustasi, tidak mudah mengendalikan diri, tidak peka terhadap orang-orang disekitarnya. Seorang remaja biasanya membutuhkan pengakuan kehadiran dirinya ditengah-tengah orang-orang sekelilingnya.

b.      Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yaitu :

1.      Faktor Keluarga
Keluarga adalah tempat dimana pendidikan pertama dari orangtua diterapkan. Jika seorang anak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan didalam keluarganya maka setelah ia tumbuh menjadi remaja maka ia akan terbiasa melakukan kekerasan karena inilah kebiasaan yang datang dari keluarganya. Selain itu ketidak harmonisan keluarga juga bisa menjadi penyebab kekerasan  yang dilakukan oleh pelajar. Suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja.
3
 Menurut Hirschi (dalam Mussen dkk, 1994). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu
 penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak (hawari, 1997).
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak (hawari, 1997). Jadi disinilah peran orangtua sebagai penunjuk jalan anaknya untuk selalu berprilaku baik.

2.      Faktor Sekolah
Sekolah tidak hanya untuk menjadikan  para siswa pandai secara akademik namun juga pandai secara akhlaknya . Sekolah merupakan wadah untuk para siswa mengembangkan diri menjadi lebih baik. Namun sekolah juga bisa menjadi wadah untuk siswa menjadi tidak baik, hal ini dikarenakan hilangnya kualitas pengajaran yang bermutu. Contohnya  disekolah tidak jarang ditemukan ada seorang guru yang tidak memiliki cukup kesabaran dalam mendidik anak muruidnya akhirnya guru tersebut menunjukkan kemarahannya melalui kekerasan. Hal ini bisa saja ditiru oleh para siswanya. Lalu disinilah peran guru dituntut untuk menjadi seorang pendidik yang memiliki kepribadian yang baik.

3.        Faktor Lingkungan
Lingkungan rumah dan lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perilaku remaja. Seorang remaja yang tinggal dilingkungan rumah yang tidak baik akan menjadikan remaja tersebut ikut menjadi tidak baik. Kekerasan yang sering remaja lihat akan membentuk pola kekerasan dipikiran para remaja. Hal ini membuat remaja bereaksi anarkis. Tidak adanya kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu senggang oleh para pelajar disekitar rumahnya juga bisa mengakibatkan tawuran.


2.      Hal yang menjadi pemicu tawuran
Tak jarang disebabkan oleh saling mengejek atau bahkan hanya saling menatap antar sesama pelajar yang berbeda sekolahan. Bahkan saling rebutan wanita pun bisa menjadi pemicu tawuran. Dan masih banyak lagi sebab-sebab lainnya.

3.      Dampak karena tawuran pelajar
a.       Kerugian fisik, pelajar yang ikut tawuran kemungkinan akan menjadi korban. Baik itu cedera ringan, cedera berat, bahkan sampai kematian
b.      Masyarakat sekitar juga dirugikan. Contohnya : rusaknya rumah warga apabila pelajar yang tawuran itu melempari batu dan mengenai rumah warga
c.       Terganggunya proses belajar mengajar
d.      Menurunnya moralitas para pelajar
e.       Hilangnya perasaan peka, toleransi, tenggang rasa, dan saling menghargai

4.      Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi tawuran pelajar
a.       Memberikan pendidikan moral untuk para pelajar
b.      Menghadirkan seorang figur yang baik untuk dicontoh oleh para pelajar. Seperti hadirnya seorang guru, orangtua, dan teman sebaya yang dapat mengarahkan para pelajar untuk selalu bersikap baik
c.       Memberikan perhatian yang lebih untuk para remaja yang sejatinya sedang mencari jati diri
d.      Memfasilitasi para pelajar untuk baik dilingkungan rumah atau dilingkungan sekolah untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat  diwaktu luangnya. Contohnya  : membentuk ikatan remaja masjid atau karangtaruna dan membuat acara-acara yang bermanfaat, mewajibkan setiap siswa mengikuti organisasi atau ekstrakulikuler disekolahnya

Kartini kartono pun menawarkan beberapa cara untuk mengurangi tawuran remaja, diantaranya :
1.      Banyak mawas diri, melihat kelemahan dan kekurangan sendiri dan melakukan koreksi terhadap kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak menuntun
2.       Memberikan kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan sehat
3.      . Memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan remaja zaman sekarang serta kaitannya dengan perkembangan bakat dan potensi remaja

IV. Kesimpulan dan Saran

1.      Kesimpulan
Faktor yang menyebabkan tawuran remaja tidak lah hanya datang dari individu siswa itu sendiri. Melainkan juga terjadi karena faktor-faktor lain yang datang dari luar individu, diantaranya faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor lingkungan.
Para pelajar yang umumnya masih berusia remaja memiliki kencenderungan untuk melakukan hal-hal diluar dugaan yang mana kemungkinan dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain, maka inilah peran orangtua dituntut untuk dapat mengarahkan dan mengingatkan anaknya jika sang anak tiba-tiba melakukan kesalahan. Keteladanan seorang guru juga tidak dapat dilepaskan. Guru sebagai pendidik bisa dijadikan instruktur dalam pendidikan kepribadian para siswa agar menjadi insan yang  lebih baik.
Begitupun dalam mencari teman sepermainan. Sang anak haruslah diberikan pengarahan dari orang dewasa agar mampu memilih teman yang baik. Masyarakat sekitar pun harus bisa membantu para remaja dalam mengembangkan potensinya dengan cara mengakui keberadaanya.

2.      Saran
Dalam menyikapi masalah remaja terutama tentang tawuran pelajar diatas, penulis memberikan beberapa saran. Diantaranya :
a.       Keluarga sebagai awal tempat pendidikan para pelajar harus mampu membentuk pola pikir yang baik untuk para pelajar
b.      Masyarakat mesti menyadari akan perannya dalam menciptakan situasi yang kondusif
c.       Lembaga pendidikan formal sudah semestinya memberikan pelayanan yang baik untuk membantu para pelajar mengasah kemampuan dan mengembangkan segala potensi yang ada didalam dirinya


sumber :

tanpa Judul

 Telah sampai pada titik jenuh, memang bukan yang pertama tapi udah yang kesekian kalinya “ibu..... adek give up kuliah!!!.” Sebenernya banyak yang gak adek ngerti..
 setiap hari yang selalu bikin gw semangat kuliah cuma kehadiran temen2 yang baik yang ada disekeliling gw. Dikampus, kuliah udah kayak gak kuliah. Tiap detik pelajaran jadi ajang ketawa bahagia. Bukan karena mengerti pelajarannya. Tapi karena ngobrol sama temen-temen yang kebetulan udah masuk dan harus keluar dari kampus ini dengan hasil yang tentunya terbaik.
Itu kehidupan dikampus, sedangkan dirumah? Yaa dirumah, gw Cuma bisa mikirin apa yang mesti gw lakukan buat keluar dari jebakan pembelajaran dijurusan ini. Grrrrrrr..... frustasi karena UAS yang waktunya mepet. Deadline tugas yang buannyyaaakkk dan mesti baca dan cari sumber referensi yang banyakk pula. menguras energi, waktu, pikiran . Sampe-sampe makan pun jadi terlupakan.
Lagi-lagi, mesti ngerjain tugas yang tentunya bukan bahasa indonesia. Ini perkara yang susah, pake bahasa yang gw sangat buta! Gw udah terjabak disini, ini adalah pilihan yang sebelumnya pun udah gw tau resikonya bakalan kayak begini. Dan gw harus bergulat dengan ini semua. Mesti cepet-cepet keluar dari masalah ini, harus gw lewati jalan setapak untuk menemukan cahaya yang menembus tanpa batas !!!


Sabtu, 04 Juni 2011

Naskah Drama "BERANI BERMIMPI"

Ini adalah sebuah naskah drama dari cerita ku yang beberapa hari lalu telah aku tuliskan. tulisan sebelumnya berjudul " Yaa.. Alhamdulillah Kita meraihnya kawan !". Naskah drama ini menceritakan seorang anak laki-laki bernama Jepi yang tinggal dibantaran kali code Yokyakarta. Drama ini berjudul “berani bermimpi”, semoga naskah drama ini dapat menjadi sebuah bacaan yang menginspirasi dan memotivasi kita agar kita dapat menjadi insan-insan yang kamil

SESSI 1

(Instrument)
(Entah untuk apa aku bersusah payah merangkakkan kaki hingga letih dan tertatih, aku dengan segala ketidak tahuan ku. Aku yang mencari jawaban tanpa adanya alasan)

Guru
Pagi benar kamu datang. Sudah lima hari aku memperhatikan mu. Ada apa dengan mu nak?

Sukma
Maaf bu aku terlambat lagi hari ini. Padahal aku sudah berusaha untuk bangun pagi. Tapi  mungkin aku terlalu lelah sehingga sulit bangun lebih pagi

Guru
Baiklah… tapi ingat kau tidak kau tidak boleh berniat untuk tidak melanjutkan sekolah mu

Sukma
Aku tidak berniat untuk meninggalkan sekolah ku. Namun kini aku benar-benar sedang merasa bosan

SESSI 2

(Saat ini, nanti atau bahkan seterusnya aku akan tetap seperti ini. tenggelam bersama bayang-bayang bosan dalam hidup ku. Usia ku sudah genap 14 tahun namun tugas yang ku emban bagaikan orang dewasa berusia 24 tahun… dan lagi-lagi aku hanya bisa berkata,,, entahhhhlah………..)


Ibu
Sudah pulang nak?

Sukma
(tersenyum) sudah bu

Ibu
Bagaimana tadi belajar disekolah mu? Menyenangkan?

Sukma
Iya, sangat menyenangkan seperti hari-hari sebelumnya

Ibu
Syukurlah kalau begitu nak, ingat nduk, sekolah itu sangat penting. Apapun keadaannya sekolah itu tetap sangat penting. Maka dari itu nak, kamu rajin-rajin ya belajarnya. Insya Alloh ibu akan mendoakan mu

Sukma
Njeh bu, yasudah bu, aku ganti pakaian dulu

Ibu
Iyaa-iyaa… kue nya sudah ibu siapkan diatas meja, kamu jual saja dipasar tidak usah berkeliling. Nanti kamu lelah.

SESSI 3

(Instrument)

Teman 1
Apa kalian sudah tau? Kabarnya akan ada seorang mahasiswa yang ingin datang dan mengajar anak-anak disekitar kali code

Teman 2
Wahhh…. Asyikk donk, tapi-tapi… darimana kamu tau? Ngomong-ngomong pengajarnya laki-laki atau perempuan? Kalau laki-laki… wahhhh pasti aku akan datang!!!

Teman 3
Memangnya apa pengaruhnya jika pengajarnya laki-laki? Ahh sama sajaa, yang penting itu ilmu nya ross..

Sukma
Yang namanya belajar, dimana-mana ya membosankan

Teman 1
Yowis… yowiss… sudah mulai petang, ayo kita segera pulang sebelum gelap

SESSI 4

(Instrument)

(3 bulan, 5 bulan , 6 bulan.. ya 6 bulan telah berlalu. Aku dan teman-teman ku telah mendapatkan pengajaran dan pendidikan yang baik dan tentunya berkualitas dari mahasiswi itu)

teman 2
kaka, Bukan kah sudah banyak orang pandai disini? Lalu untuk apa kita belajar?

Mahasiswi
Pertanyaan yang bagus, untuk apa kita belajar? Padahal sudah banyak orang yang pandai? kita memang banyak memiliki orang-orang yang pandai disekeliling kita namun apakah orang yang pandai itu telah cukup pandai untuk memandaikan orang-orang disekelilingnya?! Jika tidak? Maka apa yang harus kita lakukan? Tentulah kita harus memandaikan diri kita sendiri.dengan cara apa? Tentulah Dengan belajar yang tekun.. belajar adalah cara manusia untuk keluar dari kebodohan. Bagaimana? Mengerti?
Nah, tentu kalian memiliki cita-cita bukan? Sekarang ibu ingin kalian menuliskan mimpi dan cita-cita kalian diatas kertas. Setelah itu, ibu akan menunjuk kalian satu persatu untuk mengatakan apa cita-cita kalian.

(satu per satu para murid mengatakan cita-citanya, lalu tibalah giliran Sukma menyampaikan cita-citanya)

Mahasiswi
Ya sukma, sekarang giliran mu.

Sukma
Aku tidak punya cita-cita

mahasiswa
(mengerutkan dahi)
Kau pelajar dan kau harus punya cita-cita

Sukma
6 tahun yang lalu, rumah kontrakan yang aku tempati terbakar. Tak ada sedikit pun harta benda yang dapat diselamatkan. Bahkan buku-buku pelajaran ku habis terbakar. kaka tau, ayah ku hanya seorang penarik becak, ibu ku berdagang kue basah, dan adik-adik ku begitu banyak. Penghasilan tidak sesuai dengan pengeluaran. Sampai akhirnya aku dan keluargaku terpaksa tinggal dibantaran kali ini.
Aku yang saat ini dipaksa mengerti oleh keadaan keluarga yang serba terbatas. Kami harus bersesak ria disebuah petak berukuran 3x4 saat malam menjelang

Mahasiswa
Apakah hanya karena itu? Itu kah alasan mu? Hanya Karena itukah?

Sukma
Tentu tidak, setiap hari aku sekolah tanpa semangat. Aku menganggap sekolah hanyalah sebagai tuntutan. Orang tua ku mengatakan bahwa orang yang sekolah lebih baik dari pada yang tidak sekolah. Ibu ku berkata bahwa sekolah itu baik, maka aku sekolah agar aku dianggap anak yang baik oleh kedua orangtua ku. Tanpa aku tahu untuk apa aku sekolah.
Aku tidak menemukan kebahagiaan selama bersekolah
Bahkan aku tidak tahu untuk apa aku belajar, aku lelah dengan semua ini. Tidurku adalah waktu dimana aku dapat sejenak melupakan segala apa yang aku pikirkan
Jangankan untuk bercita-cita, bermimpi untuk bahagia saja tidak pernah. Aku tidak punya cukup waktu untuk untuk menuliskan harapan-harapan ku dihari nanti. Waktu ku, telah aku habiskan untuk belajar dan mencari uang. Aku tidak berani bermimpi ka, aku tidak berani bercita-cita, aku tidak punya cita-cita
Mungkin cita-cita terbesar ku adalah HARI INI, ESOK, LUSA dan DIHARI-HARI seterus nya aku dan keluarga ku bisa makan. Jujur semanjak kaka hadir disini aku merasakan kebahagiaan dalam menuntut ilmu. Tapi tetap saja, aku hanya merasa bahagia dan masih tetap tidak merasakan untuk apa aku menuntut ilmu. Bagi ku itu semua hanya membuang waktu. Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku bingung, ka..

Mahasiawi
Kau berkata, hari ini, esok, lusa dan seterusnya kau ingin keluarga mu bisa makan. Sebetulnya itulah jawabannya! Ini lahh jawaban dari masa kejenuhanmu, ketidak tahuan mu, dan keraguan mu tentang sekolah.
Bersabarlah sukma, mungkin sekarang kau belum merasakan manfaat untuk apa kamu belajar. Tapi dihari nanti, itu semua akan terjawab.
Sungguh, ini bukanlah kata hiasan penuh gelora tapi ini tiket untuk sukma menuju masa depan yang gemilang.
Kau akan sanggup membiayai keluarga mu lebih dari cukup. Belajar, sekolah dan pendidikan adalah cara untuk keluar dari belenggu kemiskinan juga kebodohan. Jika kau bersungguh-sungguh dalam sekolah dan ibadah, kau akan mampu. Kau harus bertekat. Kau harus bermimpi. Percaya pada Alloh, sukma. Percayalah, yakin, ya yakinkanlah dirimu. Kau mampu meraihnya. Percayalah!
(sukma melihat mahasiswi)

 SESSI 5

Kata-kata kak Nida sampai sekarang nyata tergambar dalam benak ku, masih menggelora di hatiku. Masih memberikan desiran pasir penuh ombak semangat untuk ku bercita-cita.

Teman 1
Sukma, hai sukma... kami disini

Teman 2
Lihat, awan itu, sekarang cita-cita ku sudah setinggi awan itu...

(lihat ke awan)

( sukma berjalan)

Matahari yang dulu kelam kini menjadi terang
Kebahagiaan yang diselimuti pelangi kini telah merasuk ke rongga jiwa ku
Petir yang dulu menyambar kini menjadi kemilau cahaya yang tidak akan pernah pudar
Bangkitnya jiwa ku membangkitkan mati suri nya cita-cita ku

WS RENDRA pernah berkata
“.... dan perjuangan yang sesungguhnya adalah pembuktian dari kata-kata”


- By paku palu (Iftitah NJ, Ulfa Sabila K)-

 












Selasa, 31 Mei 2011

Yaa.. Alhamdulillah Kita meraihnya kawan !

Kurang lebih seminggu sebelum hari H, hari dimana PERABA alias Pekan Raya Bahasa yang setiap tahun diadakan dikampus ku akan dilaksanakan.

PERABA merupakan acara tahunan kampus yang mana kita (anak-anak jurusan  bahasa  meliputi bahasa indonesia, bahasa inggris, dan bahasa jepang dari universitas uhamka Limau dan uhamka pasar rebo) bersaing untuk adu bakat, adu kemampuan, dan adu keberanian.

Seorang panitia PERABA datang kesetiap kelas untuk mempromosikan acara tersebut, bukan Cuma mempromosikan melainkan juga memberikan formulir pendaftaran. Siapa pun bisa ikut diacara ini, mulai dari anak semester satu sampai anak semester delapan.
Nah, aku yang menjabat sebagai sekertaris kelas dengan seksama membaca formulir itu. Mencoba melihat perlombaan apa sajakah yang dilombakan dalam acara ini.
Tak butuh waktu lama untuk ku melihat macam-macam perlombaannya. 

Mataku langsung melotot melihat sebuah tulisan yang kira-kira bertuliskan seperti ini..

1. lomba baca puisi
2. lomba drama

“aku ikut yang ini ya”, kataku kepada sang ketua kelas sambil menunjuk pada tulisan lomba baca puisi dan lomba drama.
tanpa ragu-ragu aku tulis nama ku dengan pulpen bertinta  biru yang saat itu sedang aku genggam ditangan ku, yaa… secara pasti aku tulis nama ku sebagai peserta lomba membaca puisi.

Sebenarnya masih ada lomba-lomba lainnya yang diperlombakan, seperti, lomba merias jilbab, lomba origami, dan lomba speech contest. Namun aku tidak begitu antusias mengikuti perlombaaan selain lomba baca puisi dan lomba drama. Mungkin karena aku tidak menyukainya.

Membaca puisi bukanlah hal yang asing dan tabu bagiku, karena sejak aku di sekolah dasar, aku dikenal sebagai anak yang mahir membaca puisi, aku juga mendapatkan nilai terbaik saat pengambilan nilai membaca puisi di mata pelajaran bahasa Indonesia. 

Aku pun sering diminta untuk membaca puisi diacara-acara tertetu disekolahku, seperti saat memperingati maulid nabi,perpisahan kelas, ataupun isra mi’raj. aku masih ingat, puisi pertama yang aku baca dimuka kelas adalah puisi yang berjudul “JAKARTA” karya Husni Djamaludin

Awalnya teman-teman ku meledek ku setelah aku selesai membaca puisi itu didepan kelas, namun itu tak membuatku kecil diri. Malah sebaliknya, aku berhasil membuktikan kepada mereka bahwa aku mendapat nilai yang paling tinggi dikelas.

Dan setelah aku masuk ke SMP aku juga sering mengikuti lomba membaca puisi dan selalu menjadi juara dalam porseni disekolah ku.
Kembali ke lomba baca puisi dikampus ku, aku melihat persyaratannya, diformulir itu tertulis bahwa, puisi yang dibacakan haruslah puisi yang diciptakan oleh tiga sastrawan besar Indonesia yaitu Chairil Anwar, Djoko Damono, dan WS Rendra.

Pikirku terus tergoyak, hmmm… puisi apa yang kira-kira akan aku bacakan nanti? Puisi siapa yang akan aku baca? Duhhh… Aku sungguh bingung. Setelah pulang kuliah, aku coba untuk mencari di internet tentang kumpulan puisi-puisi Chairil Anwar. 

Dari situ aku menemukan banyak sekali puisi karyanya, aku harus menghabiskan waktu untuk membaca satu per satu karya puisi nya yang menurutku bahasanya tidak mudah untuk aku pahami.

Sampai akhirnya aku memilih salah satu puisinya yang berjudul “karawang bekasi:” mulanya aku tidak tahu apa makna dari puisi ini. Aku coba memanggil kaka ku untuk menjelaskan maksud dari puisi ini. dia mengatakan bahwa puisi ini adalah puisi yang mengisahkan perjuangan pahlawan sewaktu zaman penjajahan untuk merebut kemerdekaan.

Baiklah, aku sudah menemukan puisi yang akan aku bacakan diperlombaan PERABA nanti. Selanjutnya, aku harus mempersiapkan drama yang mana telah aku katakan pada ketua kelas bahwa aku menyanggupi untuk berpartisipasi dalam perlombaan drama ini.
Esok harinya aku coba untuk mengumpulkan nama temen-teman kelasku yang mau aku ajak untuk menjadi bagian dalam lomba drama kali ini. 

sengaja aku mengajak teman-teman yang merupakan anggota dari teater hijrah (nama teater dikampusku) namun ada juga temanku yang bukan anak teater tetapi mau bergabung. Dan akhirnya aku menemukan tujuh personil yang akan masuk dalam tim drama. mereka adalah Norma, Lala, Novia, Jupe, Embet, Shella, Tiara, dan yang terakhir adalah aku. Ohiya… perlombaan drama ini juga ditentuin lho temanya. Ada tiga tema yang disajiakn yaitu tentang pendidikan, budaya dan politik.


Tim ku mencoba mengangkat tema pendidikan, kenapa? Karena pendidikan adalah pembicaraan yang tidak akan pernah habis untuk dibicarakan. Kita pun terinspirasi dari banyak nya film-film Indonesia yang akhir-akhir ini juga sering mengangkat cerita yang berbau pendidikan serta perjuangan anak-anak Indonesia untuk mengejar cita-cita yang semangatnya selalu berkobar.

Aku meminta izin kepada teman-teman agar aku diberikan kekuasaan penuh untuk menulis scenario dan aku juga yang menentukan jalan ceritanya. Setelah teman-teman menyetujui permintaanku ini maka aku segera membuat scenario nya. Tak ketinggalan, aku pun meminta bantuan sepupu ku “Ulfa Sabila Khoiriyah” untuk membantu menuliskan dialog nya.

Hanya membutuhkan waktu sehari untuk menulis teks dramanya, aku mengambil cerita dari sebuah blog yang tanpa sengaja aku temukan, ini merupakan kisah nyata dari seorang anak laki-laki yang tinggal dibantaran kali code Yogyakarta, anak laki-laki itu bernama Jepi. 

Jepi adalah salah satu dari banyak nya anak-anak Indonesia yang merasa bosan, letih, dan penat dengan segala rutinitas sekolah. Ia adalah sosok seorang anak sederhana yang berasal dari keluarga yang ekonominya bisa dibilang sulit. 

Ia tidak menemukan kebahagiaan dalam menempuh penididikan, ia tidak tahu untuk apa ia bersusah-susah sekolah. Kesibukannya sehari-hari hanyalah sekolah dan membantu kedua orang tuanya mencari uang. 

Bahkan sangking sibuknya, ia tidak memikirkan apa cita-cita nya dihari esok. Ia tidak berani bermimpi karena kadaannya yang sulit. Sampai suatu ketika datanglah seorang mahasiswa yang berhasil mendobrak batas-batas pemikiran Jepi yang sempit.
Hari pertama latihan pun dimulai

Mencari karakter yang pas untuk menggambarkan sosok seorang Jepi bukanlah hal yang mudah. Kami harus berganti-ganti peran agar bisa menemukan karakter-karakter yang pas.
Dalam cerita drama ini, aku mencoba mengganti nama Jepi menjadi Sukma. Maklumlah tim ku bernaggotakan perempuan semua. Namun hal itu tidak menjadi penghambat yang serius. 

Didalam drama ini ada beberapa tokoh, Aku menjadi Sukma, Lala menjadi Ibu nya Sukma, Novia menjadi Ibu Guru, Agnes sebagai Ros (teman Sukma yang centil), Tiara sebagai Tiara (teman Sukma yang berasal dari jakarta), Jupe sebagai Nur (teman sukma yang berlogat bahasa minang), lalu yang terakhir adalah Embet sebagai mahasiswa.
2 hari latihan sudah membuat kita semua merasa percaya diri dan siap mengikuti lomba esok.

Malam hari sebelum tidur, aku siapkan diri untuk berlatih mambaca puisi. Sekitar sampai jam 12 malam aku berlatih tanpa bersuara karena takut mengganggu tidur orang-orang rumah.

Dipertengahan teks puisi yang kubaca, aku ingat sebuah pesan dari teman ku yang bernama agnes, “tah, anak pasar rebo itu kalo baca puisi lebai-lebai banget. Sampe-sampe geser-geser ketanah. Nah nanti lo bacanya yang lebai ya”. Bukan perkara sulit bagi ku, aku hanya butuh menghayati puisi nya lalu ekspresiku akan mengalir seperti air sungai.

Belum sampai disitu saja latihan ku, setelah selesai latihan membaca puisi aku pun harus menghafalkan dialog ku untuk pentas drama besok karena aku mendapat sebuah dialog yang sangat panjang. Aku juga yakin teman-teman se-tim drama ku juga sedang melakukan hal yang sama malam ini yaitu “menghafal dialog”.

Hari yang ditunggu-tunggu tiba

Perlombaan pertama adalah lomba membaca puisi, hati ku berdesir kencang. ini adalah perlombaan pertama yang aku ikuti yang mana semenjak SMA, aku belum pernah mencetak kemenangan lagi dalam membaca puisi. Giliran ku tiba, aku adalah peserta kedua, memang penonton tidak begitu banyak. Tiga orang juri duduk dibarisan paling depan dan semua juri adalah seorang wanita berjilbab. 

Segera aku percepat langkah menuju panggung yang berjarak tak lebih 10 meter dari tempat ku duduk. “panggung ini milikku”, aku mencoba membangkitkan sendiri semangat ku. Aku mulai dengan mengatur nafas, berusaha lebih tenang, dan melemparkan senyuman untuk teman-teman ku yang menjadi supporter ditempat duduk barisan belakang.


Aku mulai dengan mengucapkan salam sambil tersenyum menatap penonton. Aku membaca puisi sambil menggerakkankan tangan ku kekanan, kekiri, katas, dan kebawah. Aku berusaha menguasai panggung yang cukup luas itu. Sampai pada klimaks nya, aku jatuh bersimpuh sebagai ekspresi kesedihan, lalu aku bangkit lagi dengan mengacung-acungkan tangan. Diakhir membaca puisi, aku tutup dengan mengucap salam dan berdiri keposisi semula seperti awal aku mengucap salam yang pertama. 

Tepukan meriah pun datang kepada ku. Silih berganti peserta, aku melihat kemampuan peserta lain yang juga tidak kalah hebat.
Aku mendapat banyak pujian dari para juri, mereka mengatakan bahwa dari pertama aku mengucaap salam, para juri sudah merasa merinding. 

Itu merupakan nilai plus untukku. Aku hanya tinggal menunggu pengumuman saja.
Beralih ke perlombaan drama, setelah aku selesai membaca puisi, aku dan teman-teman drama segera mengganti baju pentas. Kita berdandan layaknya seorang artis profesional.
Kami adalah peserta yang mendapat urutan pertama untuk tampil. 

Sebelum itu aku ajak teman-teman untuk membentuk lingkaran dan berdoa agar diberikan kelancaran selama pentas drama sedang berlangsung. Namun sayang sekali, music yang menjadi soundtrack dalam drama kami sedikit mengalami kesalahan teknis karena speaker/salon yang dipakai tidak bisa bekerja dengan bagus. 

Walau demikian kami tetap melanjutkan pentas kami. Para kru yang sedang memperbaiki speaker akhirnya dapat mengatasinya kemudian drama kami pun menjadi lebih hidup saat music terdengar. Lalu pentas drama sudah selesai. 

Tepukan meriah datang untuk kami, berbagai pujian pun terlontar dari bibir para penonton setelah kita turun dari panggung. Ada yang mengatakan bahwa ceritanya sedih, ada pula yang sampai menangis dan terharu.
Kami semua tegang menunggu pengumuman pemenang. 

Kami optimis bahwa drama yang kami sajikan tadi akan menang.
Aku pun optimis bahwa aku juga akan jadi pemenang dalam lomba baca puisi kali ini.
Waktu yang ditunggu-tunggu tiba, acara puncak PERABA sekaligus pengumuman lomba pemenang. Banyak sekali yang berdatangan untuk menyemarakkannya. Ketua Program Studi pun ikut hadir, para dosen juga tak ketinggalan hadir.


Seorang pembawa acara membaca keras-keras “… dan pemenang lomba drama adalah, bahasa inggris kelas 2C”, Setelah itu dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomaba baca puisi “…. Pemenangnya adalah iftitah nurul jannah yang datang dari prodi bahasa inggris kelas 2C”


Aku sangat takjub dan merasa bahagia karena akhirnya aku dan teman-teman berhasil merebut juara 1 dalam lomba drama. Aku pun juga berhasil merebut juara 1 dalam lomba membaca puisi. Kami mendapatkan sebuah piala, hadiah kenang-kenangan berbentuk cangkir cantik dan juga hadiah berupa uang tunai.

Ini adalah prestasi pertama ku saat aku berada didunia perkuliahan. Ini juga merupakan prestasi ku yang kembali tercetak setelah lama aku tidak menyabet sebagai juara dalam perlombaan apapun semasa aku SMA.

Kelelahan dan perjuangan ku bersama teman-teman tidak sia-sia. Kami berhasil mengharumkan nama ENGLISH kelas 2C. 

Penghargaan ini akan menjadi pendorong semangat untuk ku belajar lebih. Dan yang terpenting adalah, Alloh telah memberikan hadiah dan kejutan yang sangat membahagiakan untuk ku dan teman-teman.